Daftar Blog Saya
Senin, 28 Januari 2013
Makannya Jangan Pake Mulut! (?)
Kamis, 06 Desember 2012
Cinta +Cinta + Cinta = Setan
Waktu itu adalah masa keemasan orde baru, dimana kekuasaan sekokoh tembok Cina yang tak akan bergeming walau pun dihantam seribu pasukan gajah.
Sedikit saja anda bersenandung dengan irama fals tentang penguasa, tangan-tangan kekuasaan akan meremas remas mulut anda dan menariknya dengan seketika sampai otak anda tercerabut dan tidak akan mampu berfikir lagi untuk sebuah sikap penolakan terhadap penguasa.
Walau pun anda tidak suka, anda harus mengenakan seragam yang tidak nyaman dan membuat kulit tubuh gatal-gatal. Saya yakin masa itu jumlah hitungan orang yang tidak mau berseragam tidak cukup dengan menggunakan seluruh jari yang masing masing kita miliki, tapi mereka tak berdaya.
Mereka lebih memilih untuk cari selamat, bukan cari si Slamet, yah! Tak terhitung yang sangggup merendahkan diri serendah rendahnya untuk dapat menjilat pantat penguasa. Dengan demikian hidup mereka terjamin selamat, dan tentu saja, kebagian sedikit kue kekuasaan.
Bagaimana dengan orang-orang kritis dan idealis dan tidak sudi untuk mengekor . di antara mereka ada yang rajin bernyanyi mengoposisi kekuasaan, walau pun oposisi adalah kata yang haram waktu itu. Tapi jumlah mereka tidak banyak karena yang lainnya memilih untuk tiarap merapat rata dengan tanah, seperti sedang bersenggama dengan bumi. Sosoknya? Hampir tak terlihat. Suaranya? Hampir tak terdengar!
Hingga pada waktunya, benteng berlapis yang nampak mustahil goyah itu berhasil diluluh lantakan dan hancur berkeping keeping oleh rejim baru yang berjudul “Reformasi”. Walau pun kata Reformasi saat itu dilarang keras oleh Duryodana–walau pun ahirnya dia meminta penguasa untuk lengser keprambon–untuk digunakan tapi Tuhan berkehendak lain.
Dan ini lah waktu emas untuk bangkit dari tiarap. Kebangkitan mereka berbarengan dengan waktu ketika matahari tepat di ubun-ubun. Banyak pahlawan yang jelas jelas telat rajin bernyanyi merdu. Bahkan banyak diantara mereka yang rajin menggelar road show.
Lucunya, para begundal yang pada masa Orde baru ada di barisan terdepan pembela kekuasaan langsung balik kanan. Tapi bukan nya terus membubarkan diri dari barisan tapi bersenandung merdu menjadi individu-individu yang paling reformasi. Mereka membentuk barisan baru, “pahlawan kesorean”. Kemaren-kemaren pada kemana, Coy?
Ternyata, Orde yang lebih baru dari orde baru ini bukanlah jawaban dari masalah yang membelit negeri gemah ripah loh jinawi ini. Mungkin harus beganti beberapa lusin orde lagi sebelum negeri tercinta ini menemukan bentuk tubuhnya yang ideal.
Sebelum saya tidak menyadari bahwa saya sedang terjerumus kejurang kebiasaan saya, ngelentur, sebaiknya saya kembali ke koridor semula yaitu tetang kelakar waktu SMA.
Seorang teman, sebut saja Si Budi–emang namanya si Budi, kok!,yang biasanya menjadi konsumen banyolan kawan-kawannya, tiba-tiba bertanya pada kami, “H2O + H2O + H2O sama dengan berapa?
Saya tidak harus berfikir keras untuk menjawabpertanyaan serupa itu. Walau pun teka-tekinya terdengar seperti rumus kimia dan saya sangat bebal dengan pelajaran itu. Guyonan itu berkualitas baik tapi jelas-jelas tidak orisinil.
Kebetulan semalam saya menyaksikan acara TV, yang kurang lebih secara jenisnya mendekati OVJ saat ini. Salah satu pelawak melontarkan pertanyaan serupa yang si Budi tanyakan. Saya yakin si Budi mengutip dari tayangan TV tersebut tapi dia tidak mencantumkan sumber referensinya.
Jadi jawabannya apa? BAJIR. Si Budi tidak berhasil bahkan dia menjadi sasaran olok-olok teman temannya, ya termasuk saya, he he he.
Kemudian apa keistimewaan dari pertanyaan si Budi yang tidak lucu tapi menimbulkan kelucuan baru itu?
Lha, wong banyolannya tidak lucu kok bisa istimewa! Tapi jujur saja banyolan yang seharusnya lucu tapi jadi tidak lucu itu berhasil menginspirasi saya.
Saya menemukan formula yang tidak masuk akal tapi merupakan satu kenyataan di negeri tercinta ini dan bahkan mungkin di dunia.
Perhatikan formula berikut: Cinta + cinta + cinta…= Setan. Mungkin anda, dan sebetulnya juga saya, tak habis mengerti, bagaimana mungkin cinta yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia, kemudian cinta itu semakin dipupuk, kok bisa menghasilkan setan?
Cinta semestinya menimbulkan kadamaian, ketenangan, harmoni, kepedulian, perhatian, dan kasih sayang.
Coba perhatikan perjalanan berikut: Seorang anak manusia terlahir karena cinta ayah dan ibunya yang berpelukan merapatkan tubuh mereka. Sorga cinta yang mereka ciptakan ketika bergumul dalam gelora membara menghasilkan buah cinta putih tanpa cela.
Setelah gelar ke alam fana, cinta ayah bunda menabur buah cinta tanpa pernah terputus. Cinta anggota kerabat lainnya tak ketinggalan ikut menebar ke dalam jiwa kebanggaan dan harapan seluruh anggota keluarga.
Do’a-do’a kebaikan tak henti mengaliri jiwa yangselalu dahaga. Pengajaran formal, non formal, dan informal pun ayah bunda persembahkan untuk sang permata supaya kelak mendapat bekal yang cukup untuk mengarungi samudera yang tak selamanya berombak ramah. Di sana dia kembali belajar cinta dan kebaikan.
Campurtangan religi pun turut menyuburkan cinta sang pujaan hati. Semakin sempurna lah cinta anak manusia ini.
Tapi apa hasil dari berondongan aliran cinta yang dia dapatkan? Menjadi apa dia? TERORIS! Sebuah kata yang menebar rasa takut. Yangat membuat getir justru kata “iblis” itu diidentikan dengan Islam, sebuah agama Rahmatan lilalamin.
Karena kesalahan “kecil” dalam mengartikan ayat-ayat perjuangan agama, dia terjerumus ke dalam kubangan lumpur pekat hina dina. Hebatnya lagi, dia tidak menyesal dengan kematian dan ketakutan yang dia sebabkan. Tapi justru merasa bangga karena akan dibayar dengan surga di kehidupan setelah kematian.
Bali yang luluh lantak dan hotel marriot yang compang camping adalah prestasi yang membanggakan. Hilanggnya banyak nyawa yang tak berdosa adalah sebuah harga yang wajar untuk perjuangan atas nama Tuhan. Itu sudah terjadi sekian lama yang lalu, tapi bagi kerabat dan handai taulan yang ditinggalkan dua peristiwa itu seperti baru terjadi kemarin.
Kemudian , hantu baru mencekam warga ibukota dalam bentuk buku dan bungkusan paket. Itu untuk menunjukan kepada si ‘kafir’ bahwa mereka masih ada dan mampu berbuat sesuatu yang fenomenal.
Mereka merasa lebih benar dari siapa pun yang berfikiran beseberangan. Mereka yakin bahwa perjuangan nya adalah “hak”. Dan segala bentuk penenentangan terhadap perjuangan mereka adalah Setan yang darahnya halal. Sebetulnya mana yang Setan itu?
Gede Prana pernah mengatakan melalui Kompas, “ ketidakadilan tatanan dunia, pemberitaan yang penuh kekerasan, pemerintah yang tidak sepenuhnya dikelola, sekolah yang menakutkan, keluarga yang mengalami keruntuhan, miskinnya keteladanan tokoh, iklan yang terus menggoda nafsu, hanyalah sebagian jejaring yang menjaring mereka masuk ke dalam terowongan gelap kesalahfahaman. Mencaci mereka akan mempertebal kesalahfahaman.”
Saya tidak pernah mencaci mereka, tapi tidak habis fakir dengan jalan pemikiran mereka.
Dan saya yakin kabanyakan orang tidak akan menyangkal bahwa orang atau kelompok orang yang menghalalkan segala cara dengan membuat kerusakan di muka bumi, dan menghilangkan sekian banyak nyawa seperti tiada harga adalah berperilaku SETAN.
Semoga Agama Rahmatan lil alamin itu di usakan menjadi kenyataan oleh mereka yang lebih mengerti tentang agama dan oleh pemeluknya tidak terkecuali dengar porsinya masing-masing.
Semoa Allah mengampuni ketidakmengertian dan kebodohan saya.
Kamis, 29 November 2012
Curug Cinulang Cicalengka
Pengalaman RRuaaar Biasa sebagai Pelanggan INDOSAT 2
Rabu, 21 November 2012
Pengalaman RRuaaaar Biasa sebagai Pelanggan INDOSAT
Rabu, 11 April 2012
Kunjungan ke Masa Kecil
Aku sedang berbaring di salah satu kamar rumah orangtua ku. Sebuah kamar dengan pintu langsung ke luar menghadap timur, tanpa ada jendela. Sebuah rumah kayu dengan dinding bilik yang pada siang hari sering terlihat cahaya matahari memaksa masuk menerobos ke dalam rumah. Sebuah fenomena yang sering menarik perhatian ku.
Dari sebelah selatan terdengar suara riang anak-anak sedang bermain. Ketika mata ku sedikit terbuka. Cahaya matahari memaksa masuk dari sela-sela lubang kecil bilik dan pintu yang sedikit terbuka. Satu cahaya menerpa mataku. Mata ku memincing karena silau.
Di sebelah kiri, pintu masuk yang tanpa daun pintu terlihat cahaya terang masuk dari jendela di ruang tengah yang menghadap ke utara.
Aku bangkit dari berbaring ku dan beranjak menuju pintu yang menuju ke luar yang sedikit terbuka dan aku buka lebar-lebar. Tampak lah sepasang pohon jambu biji, satu di utara dan satu di selatan, mengapit tiga pohon cengkih yang jauh lebik tinggi. Seingat ku dua pohon jambu biji itu sudah ada sejak aku belum sekolah. Mungkin sudah ada sejak aku belum lahir. Walau pun ketiga pohon cengkih yang yang tumbuh ditengah dua pohon itu lebih tinggi, tapi aku masih ingat ketika ayah menanam ketiga bibit pohon cengkih itu beberapa tahun yang lalu. Aku ingat betul, ayah mendapatkan bibit cengkeh itu dari Mang Tisna yang tinggal di sebelah selatan dari rumah kami.
Tapi mengapa rumah ini sepi sekali? Tak ada suara ayah, ibu, kakak-kakak, dan adik ku. Tidak pula terdengar suara aktivitas mereka. Sedangkan suara anak-anak yang sedang bermain masih terdengar sayup-sayup. Tapi entah dari arah mana!
Setelah menutup pintu keluar, aku keluar dari kamar dan menuju ruang tengah. Tak jauh dari pintu, aku menghadap jendela dan menyapukan pandangan ke utara. Mata ku menjelajah tiap sudut. Masih seperti dulu.
Di depan adalah sebuah gang lurus dengan deretan rumah di kanan kiri. Di kiri ada rumah Pak Makmur bersambung dengan rumah yang entah siapa pemiliknya sekarang, rumah Ujang Rosid teman SMP ku dan sebuah masigit, atau tepatnya sebuah mushola kecil tempat aku belajar mengaji dan bercanda ketika sedang solat tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beberapa rumah yang sekarang penghuninya sudah tiada, dan berakhir di sebuah kebun milik Ma Anah. Sedangkan dibalik kebun yang dipagar kayu tinggi adalah sebidang tanah yang dulunya milik Ma Anah juga. Tempat dulu aku bermain.
Aku masih ingat waktu itu ditengah bidang tanah di balik pagar kayu tinggi, yang dulunya milih Mak Anah itu ada sebuah pohon kemiri yang besar dan tinggi. Batangnya yang menancap kuat ke bumi besarnya menandingi tubuh seekor kerbau.
Pernah suatu hari waktu hari sedang gerimis sehabis hujan besar, aku, dan teman-teman bermain di sana. Gerimis dan udara dingin yang menggigilkan tubuh kami tidak kami pedulikan. Kami sibuk mencari kemiri yang jatuh dari pohonnya, dan setelah menemukannya dengan susah payah kami memecahkan cangkang dan tulangnya yang sangat keras, kemudian kami memakannya.
Entah sudah berapa banyak daging kemiri yang masuk ke dalam perut kami, tapi yang terang ketika aku sampai ke rumah, kepalaku pusing-pusing bak mabuk laut. Perutku terasa diaduk-aduk dan berakhir dengan keluarnya seluruh isi perutku, yang sebagian besar adalah pecahan-pecahan kemiri yang tidak tercerna dengan sempurna.
Tapi setelah tanah itu berpindah tangan, pohon kemiri yang merupakan pohon terbesar dan tertinggi kedua di kampung kami itu sudah rata dengan tanah —pohon tertinggi pertama adalah sebuah pohon Lame yang berdiri kokoh di tengah pekuburan yang tidak begitu luas, pohon itu masih bisa terlihat dari jarak belasan kilo meter. Dan sebagai gantinya, berdirilah sebuah rumah yang terbilang cukup mewah untuk ukuran kampung kami waktu itu dan sebuah mesjid yang cuku megah pula.
Di sebelah kanan gang adalah deretan rumah keluarga Nek Limah dan beberapa rumah lainnya yang juga sudah berpindah tangan ke orang dari luar kampung kami.
Kusapukan mata ku lebih ke kanan dan pohon jambu biji dan salah satu pohon cengkih pun terlihat. Beberapa butir jambu yang sudah mendekati matang, dan dua tiga butir yang sudah berwarna keemasan masih tersisa. Rupanya musim jambu biji baru saja berakhir. Tapi biasanya sisa jambu setelah musimnya berakhir justru lebih lezat dan lebih manis rasanya.
Ku balikan badan dan berjalan menuju tepas (ruang tamu). Belum sampai di tepas aku sedikit merubah arah ke sebelah kanan menuju kamar kakak ku yang kosong. Masih seperti dulu. Dipan kayu kecil dan selimut tebal berwarna merah hati penghangat tubuh di malam hari masih ada di sana.
Aku terus berjalan menuju jendela. Oh, ya kamar yang satu ini terbilang “mewah”. Selain posisi nya dekat ruang tamu kamar ini memiliki jendela yang bisa dibuka tutup seperti yang terdapat di ruang tengah. Keadaan masih tetap sama seperti lebih dari duapuluh lima tahun yang lalu. Di depan mata adalah sebuah jalan setapak yang menghubungkan rumah penduduk dengan jalan desa yang jaraknya cuma puluhan meter ke jalan desa itu.
Di sebelah kanan adalah rumah Ua Ace, dan di seberang jalan setapak adalah sebuah kebun yang digarap ayahku walaupun ayah tidak menggarap kebun itu secara professional, yang artinya beliau tidak menanam tanaman komersial yang bisa menghasilkan uang tapi cuma ditanam seadanya seperti pisang, ketela, waluh, roay, dan pohon-pohon lainnya seperti jambu air, mangga, dan yang lainnya yang tumbuh dengan sendirinya. Sedangkan pemiliknya tinggal beberapa kilo meter dari rumah kami.
Setelah beberapa saat mengamati, aku keluar dari kamar dan masuk ke ruang tamu. Tampaklah beberapa buah kursi kayu dengan kombinasi lilitan rotan yang sangat sederhana menghiasi ruang tamu. Ku teruskan menuju pintu. Ketika pintu terbuka, terhirup lah udara segar dan dingin. Kayaknya sedang musim hujan. Walau pun tidak sedang hujan aku masih bisa melihat tanah yang basah dan pohon-pohon dan tanaman lainnya yang subur menghijau.
Ku langkahkan kaki menuju jalan setapak dan berbelok ke kiri. Beberapa langkah saja dan aku sudah sampai ke dekat pohon jambu klutuk yang menjadi saksi perjalanan hidupku dari sejak aku lahir sampai aku menjelang dewasa. Belum apa-apa, manis dan lezat nya buah jambu biji sudah sampai di bibir dan lidah ku. kesegaran dan kenikmatan menjalari tenggorokanku.
Seperti pohon yang di sebelah utara pohon yang ini pun masih menyisakan beberapa butir jambu yang sudah layak dipetik. Butirannya tidak begitu besar-besar. Dan memang seigat ku pohon yang ini buahnya tidak sebesar yang di sebelah utara. Tapi soal rasa? Tidak kalah!
Aku tidak tahan dengan godaan untuk menikmati keseksian buah dari pohon yang sudah menjadi temanku sejak aku ingat hadir di dunia ini.
Tak memerlukan banyak tenaga untuk memanjat pohon itu karena memang pohon itu tidak begitu tinggi. Beberapa hentakan saja dan aku sudah berdekatan dengan jambu-jambu yang dari tadi menerbitkan air liur ku itu.
Ku raih satu yang masih hijau kekuningan. Tanpa dibersilkkan langsung ku masukan ke mulut, ku gigit, dan ku kunyah. Hmmm… nikmatnya masih seperti dulu. Rasa manis dipadu sedikit asam menjalar ke seluruh tubuh ku. Dua butir jambu ukuran sedang sudah memenuhi rongga perutku.
Aku sudah kembali turun dan sudah di bawah pohon kemudian berjalan menuju ke utara. Tiga buah pohon cengkih yang sedang berbunga tapi belum waktunya untuk dipanen sudah terlewat dan sekarang aku sudah dekat pohon jambu lainnya. Pohon yang ini memang lebih tinggi dari yang di sebelah selatan karena memang kelihatannya berumur lebih tua.
Dua butir jambu yang sudah menghuni perutku tidak mampu menyurutkan kerinduan dan dahaga ku akan masa kecil ku. Tidak menunggu lebih lama, aku memanjat dan sudah duduk di sebuah cabang kemudian terdiam sejenak untuk mengenang masa kecil ku dimana aku sering melakukan hal yang sama di pohon dan cabang yang sama.
Ku tengok ke arah kiri dan terlihatlah sebutir jambu yang lumayan besar. Rupanya seekor kelelawar telah meninggalkan jejak di jambu dan ikut merasakan nikmatnya buah itu. Beberapa bekas gigitan terlihat di beberapa bagian buah itu. Biasanya jambu yang telah digigit kelelawar akan cepat matang. Aku pernah mencoba untuk membuktikan teori itu beberapa kali. Aku pernah mencoba menggigit jambu yang masih hijau dan dua tiga hari kemudian hasilnya sudah terlihat. Jambu itu menguning dan kemudian matang.
Ku raih jambu itu dan setelah menemukan bagian yang tidak ada bekas gigitan kelelawar, ku gigit. Kenikmatan memenuhi rongga mulutku. Terima kasih kelelawar. Kau telah menyisakan kenikmatan ini untuk ku.
Beberapa saat kemudian kakiku sudah menginjak tanah. Satu hal masih menjadi tanda Tanya bagiku. Tidak terdengar suara orang bicara dan terlihat siapa pun padahal gang dekat pohon jambu ini sering dilalui orang dari dan menuju jalan desa. Tapi keadaan lingkungan sama persis seperti lebih dari duapuluh lima tahun yang lalu.
Langkah kaki ku membawa ku ke warung Ceu Titi. Di warung Ceu titi sedang menggoreng bala-bala (bakwan), makanan yang jamak menjadi jajanan di kampung ku. Dia melirik ku. Tidak ada keterkejutan di matanya ketika melihat ku. Apa di matanya aku masih terlihat seperti anak umur belasan tahun?
“Ceu, beli bala-balanya,” kata ku. “harganya berapa?
“seratus rupiah”, timpalnya.
Seratus rupiah? Sebuah harga yang di tahun 2012 ini tidak mungkin. Rata-rata harga bakwan sekarang sekitar seribu rupiah dan masih bisa lebih. Ada sih pedagang yang masih menjualnya dengan harga limaratus rupiah, tapi ukurannya tidak jauh beda dengan kelereng mainan anak-anak.
Aku bermaksud membeli dua atau tiga biji saja, tapi mengingat harganya yang cuma seratus perak, sekarang aku bermaksud beli 10 biji. Ketika ku rogoh saku celanaku di tangan ku adalah pecahan dua ribuan. Pecahan uang yang dua puluh tahun yang lalu hal yang mustahil. Sekarang aku menjadi ragu. Apakah dia akan menerima uang abad-21?
Dalam keadaan bingung, dan belum sempat sebuah bala-bala pun ku cicipi, tiba-tiba aku merasa sedang berbaring. Cahaya matahari memaksa ku memncingkan mata. Dan ketika mataku terbuka ternyata aku aku sedang di ruang depan rumahku, berbaring di atas selembar karpet.
Subhanalloh. Terima kasih ya Allah. Kau telah membawa ku kembali ke masa kecil ku. Ke tempat yang paling ku rindukan. Walau pun sekarang rumah dan lingkungan di kampung masa kecil ku sudah berubah sama sekali. Tapi kenangan indah itu tak akan lepas dari garis kehidupan ku.
Alhamdulillah!
Jakarta 29 Maret 2012




.jpg)